SEJARAH KERAJAAN SRIWIJAYA
Diajukan dalam rangka mengumpulkan tugas sekolah
Disusun oleh :
1. ahmad dayguns
SMA NEGERI 1 KAYANGAN, KLU
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’ala karena
berkat segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya, penulis
dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul Sejarah Kerajaan
Sriwijaya.
Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim terbesar dan
terkenal diseluruh Nusantara. selain itu kerajaan ini juga terkenal
sebagai kerajaan Buddha tertua yang berkedudukan di Sumatera Selatan.
Pada abad ke-20 Kerajaan Sriwijaya masuk menjadi suatu kesatuan Negara
Indonesia.
Dalam makalah yang berjudul Sejarah Kerajaan Sriwijaya ini
berisikan tentang latar belakang, sistem kehidupan, pemerintahan, masa
kejayaan, hingga masa keruntuhan dari Kerajaan Sriwijaya. Semuanya
dituangkan dalam makalah ini agar para pembaca dapat mempelajari sejarah
tentang suatu kerajaaan yang pernah berjaya dimasa lalu tersebut hingga
mampu menguasai jalur perdagangan di Sumatra, Jawa, India, Cina,
Brunei, Borneo, hingga Madagaskar di Afrika yang ada pada masa itu
hingga akhirnya Kerajaan tersebut menjadi runtuh.
Apabila dalam
penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan harap maklum, penulis
hanya insan biasa yang masih dalam tahap belajar. Maka dari itu
diharapkan kritik dan saran yang membangun bagi penyempurnaan makalah
ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Akhir kata penulis
mengucapkan banyak terima kasih.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………… 1
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………… 2
A. Latar Belakang………………………………………………………………..……..3
B. Sumber Sejarah………………………………………………………………… ..4- 6
C. Kehidupan Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya…………………7-10
D. Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya…………………………………......11
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….13
Lampiran……………………………………………..........................................14
SEJARAH KERAJAAN SRIWIJAYA
A. Latar Belakang
Sriwijaya
adalah Kerajaan Melayu Kuno di pulau Sumatera yang berpengaruh di
kepulauan melayu. Menurut H. Kern 1913, Sriwijaya merupakan nama dari
seorang raja. Pada tahun 1918 G. Coedes mengemukakan bahwa kata
sriwijaya pertama kalinya di temukan pada bagian dalam prasasti kota
Kapur. Hal tersebut berdasarkan dari sumber-sumber dan berita dari Cina
yang diperolehnya. Kota Kapur adalah nama dari sebuah kerajaan yang
terdapat di Sumatera Selatan, tepatnya berpusat di Palembang. Dalam
berita cina Sriwijaya dikenal dengan sebutan She-li-fo-she, hal tersebut
pernah dikemukakan oleh Samuel Beal pada tahun 1884.
Kemunculan
Kerajaan Sriwijaya membuat para sejarahwan mengalihkan perhatian untuk
melakukan berbagai penelitian mengenai kerajaan tersebut. Kebenaran
mengenai posisi dan kedudukan Kerajaan Sriwijaya masih belum jelas
apakah di Jambi atau Palembang?. Terdapat sejumlah perbedaan pendapat
dari para peneliti, hal ini tentunya menjadi permasalahan besar. Karena
para peneliti masing-masing memilki argument yang kuat. Misalnya saja
Nia Kurnia berpendapat bahwa Sriwijaya berada di Palembang, alasannya
bisa dilihat pada prasasti telaga batu yang ada di Palembang merupakan
gambaran dari pemerintahan Raja Sriwijaya yang memberi sumpah serapah
pada pejabat yang berkhianat pada pemerintahan sriwjaya. Tapi di lain
pihak Soekmono punya alasan yang tepat untuk menyatakan bahwa Sriwjaya
dahulunya kerajaan yang ada di Jambi, hal ini terlihat dari letak
Geografis Jambi yang dulunya strategis sebagai pelabuhan perdagangan
mengingat bahwa Sriwijaya merupakan negara maritim.
Kedua pendapat
yang berbeda tersebut masing-masing memiliki bukti dan fakta, sehingga
untuk posisi Sriwijaya tidak dapat dipastikan. Hanya saja masyarakat
lebih banyak mendengar kalau pusat sriwijaya itu ada di Palembang dan
hal itu sudah dari dulu ditetapkan sebagai sumber. Tapi yang jelas
kebenaran tersebut belum bisa terungkap sampai hari ini, sejumlah
perkiraan selalu bermunculan dengan berbagai versi yang berbeda.
Ada
yang mengatakan kalau pada masa kejayaan Sriwijaya berada di Palembang (
Minanga Komering Ulu ), dan diperkirakan runtuhnya Sriwijaya saat
kerajaan tersebut berada di Jambi. Tidak tau apakah Jambi atau Palembang
yang berhak mendapat julukan sebagai Pusat Sriwijaya yang jelas dari
kedua tempat tersebut sama-sama berada di wilayah Sumatera Selatan dan
memiliki bukti peninggalan dari kerajaan sriwijaya.
Hal ini tentunya
menjadi misteri dan menimbulkan rasa penasaran. Berbagai penelitian
telah dilakukan untuk mencari kebenaran, Namun kebanyakan hasilnya
kurang memuaskan karena masih banyak hal yang belum terungkapkan secara
tuntas. Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah keterbatasan waktu
dan sumber sejarah yang tidak memadai.
B. Sumber Sejarah
Sumber sejarah yang mendukung tentang keberadaan
Kerajaan Sriwijaya berasal dari berita asing dan prasasti-prasasti
antara lain :
1) Berita Asing
a. Sumber Cina
Keterangan
mengenai Kerajaan Sriwijaya diperoleh dari kisah perjalanan I-tsing (
Seorang pendeta Buddha dari cina ), saat ia melakukan perjalanan dari
Kanton menuju India pada tahun 671 ia singgah di Kerajaan Sriwijaya
selama 4 bulan untuk mempelajari bahasa sansekerta. Setelah itu ia baru
berangkat ke Nalanda (India). Setelah lama belajar di Nalanda, tahun 685
I-tsing kembali ke Sriwijaya dan tinggal selama beberapa tahun untuk
menerjemahkan teks-teks Buddha dari Bahasa Sansekerta ke bahasa Cina.
Dari
berita-berita yang telah ditulis I-tsing inilah dapat diketahui tentang
keadaan Sriwijaya pada waktu itu. Pada masa itu Sriwijaya merupakan
pusat penting agama Buddha. Bahkan pendeta-pendeta dari beberapa negeri
seperti Tibet dan Cina datang ke Sriwijaya untuk belajar agama Buddha.
b. Sumber Arab
Arab menjuluki Sriwijaya sebagai ” Sribuza Mas‘udi, seorang
sejarahwan Arab klasik menulis catatan pada tahun 955 M yang
menggambarkan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan besar dengan pasukan
tentara yang kuat . Hasil bumi Sriwijaya adalah kapur barus, kayu
gaharu, cengkeh, kayu cendana, pala, kardamunggu, gambir dan beberapa
hasil bumi lainya.
c. Sumber India
Kerajaan Sriwijaya
pernah menjalin hubungan dengan raja-raja dari kerajaan yang ada di
India seperti dengan Kerajaan Nalanda dan Kerajaan Cholamandala. Dengan
Kerajaan Nalanda disebutkan bahwa Raja Sriwijaya mendirikan sebuah
prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Nalanda.
2) Sumber Prasasti
Selain
sumber berita asing terdapat juga sumber prasasti yang ditemukan di
Indonesia ( ditulis dengan huruf palawa dan bahasa Melayu Kuno ).
Adapun prasasti yang dimaksud adalah sebagai berikut,
1. Prasasti Kedukan Bukit, Palembang 683M, berisi perjalanan suci ( Siddhayatra ) Dapunta Hyang yang berhasil menaklukan Jambi.
2. Prasasti Talang Tuo 684 Masehi, berisi tentang doa dan harapan yang bersifat Buddha.
3. Prasasti Telaga Batu, di kota Palembang pada abad IX atau X Masehi. Berisi kutukan terhadap pelaku kejahatan.
4. Prasasti Kota Kapur, di Pulau Bangka, berisi tentang penaklukan pulau Jawa.
5. Prasasti Karang Brahi, Merangin Jambi 686 Masehi, berisi tentang kekuasaan Sriwijaya.
6. Prasasti Ligor 775 M, yang berisi tentang ibu kota Ligor yang mengawasi perdagangan.
C. Kehidupan Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya
Ekonomi
Bumi
Sriwijaya menghasilkan beberapa kekayaan alam diantaranya; cengkeh,
kapulaga, pala, lada, pinang, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus,
gading, timah, emas, perak, kayu hitam, kayu sapan, rempah-rempah dan
penyu. Barang-barang tersebut dijual atau dibarter dengan kain katun,
sutera dan porselen melalui relasi dagangnya dengan Cina, India, Arab
dan Madagaskar.
Politik Dan Pemerintahan
Untuk memperluas
wilayah kerajaan penguasa Sriwijaya Dapunta Hyang pada tahun 664 M
menikahi Sobakancana, putri kedua raja Kerajaan Tarumanegara. Saat
kerajaan Funan di Indo-China runtuh, Sriwijaya memperluas daerah
kekuasaannya hingga bagian barat Nusantara. Dengan kekuatan armada
lautnya, Sriwijaya juga mampu menguasai lalu lintas perdagangan antara
India dan Cina, serta menduduki Semenanjung Malaya. Kekuatan armada
terbesar Sriwijaya juga melakukan ekspansi wilayah hingga ke Pulau Jawa
termasuk sampai ke Brunei atau Borneo. Penguasaan dan memberi hegemoni
wilayah dilakukan secara langsung oleh pemimpin atas daerah
kekuasaannya, hal tersebut dianggap lebih mutlak. pada abad ke-8,
Kerajaan Sriwijaya telah mampu menguasai seluruh jalur perdagangan di
Asia Tenggara.
Sistem pemerintahan Sriwijaya pada awalnya adalah
sistem Kekaisaran yang bersifat Kedatuan didirikan oleh Dapunta Hyang,
lambat laun seiring berjalannya waktu sistem pemerintahan berubah
menjadi Monarki. Monarki artinya raja yang menjadi kepala negara daan
keputusan raja adalah suatu hal yang dianggap mutlak. Semuanya telah
tertulis dalam prasasti yang mencatat sejumlah pelaksanaan suatu
keputusan raja.
Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam
sistem pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Ada tiga syarat utama untuk
menjadi raja sriwijaya, yaitu :
1. Samraj, artinya berdaulat atas rakyatnya
2. Indratvam, artinya memerintah seperti Dewa Indra yang selalu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya
3. Ekachattra, artinya mampu memayungi (melindungi) seluruh rakyatnya
Berikut daftar silsilah para Raja Kerajaan Sriwijaya :
1. Dapunta Hyang Sri Yayanaga (Prasasti Kedukan Bukit 683 M, Prasasti Talangtuo 684 M)
2. Cri Indrawarman (berita Cina, 724 M)
3. Rudrawikrama (berita Cina, 728 M)
4. Wishnu (Prasasti Ligor, 775 M)
5. Maharaja (berita Arab, 851 M)
6. Balaputradewa (Prasasti Nalanda, 860 M)
7. Cri Udayadityawarman (berita Cina, 960 M)
8. Cri Udayaditya (Berita Cina, 962 M)
9. Cri Cudamaniwarmadewa (Berita Cina, 1003. Prasasti Leiden, 1044 M)
10. Maraviyatunggawarman (Prasasti Leiden, 1044 M)
11. Cri Sanggrama Wijayatunggawarman (Prasasti Chola, 1004 M)
Dari silsilah raja-raja diatas ada dua raja yang berperan penting bagi Kerajaan Sriwjaya yaitu,
a) Raja Dapunta Hyang Sri Yayanaga
Pada masa pemerintahannya ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan
Sriwijaya sampai ke Jambi tepatnya di wilayah Minangtamwan. Pada saat
itu Jambi memiliki arti yang penting dalam bidang perekonomian karena
dekat dengan jalur perhubungan dan pelayaran perdagangan di Selat
Malaka. Dapunta Hyang bercita-cita untuk menjadikan Sriwijaya sebagai
Negara Maritim. Karena itulah Sriwijaya mengembangkan sistem dan tradisi
Diplomasi, hal ini tentunya menjadikan Sriwijaya sebagai suatu kerajaan
yang metropolitan.
b) Raja Balaputradewa
Sriwijaya
mengalami kejayaan pada masa Raja Balaputradewa. Balaputradewa adalah
keturunan dari wangsa Syaleindra yang naik tahta karena diangkat oleh
Raja Dharma Setru yang tidak memiliki keturunan. Balaputradewa adalah
pemimpin yang cakap dan tangguh. Ia meningkatkan kegiatan pelayaran dan
perdagangan dengan kerajaan yang berada di luar wilayah Indonesia.
Kerajaan Sriwijaya melaksanakan hubungan luar negeri yang bersifat
aktif, Pada masa itu Kerajaan Sriwijaya menjadi besar. Banyak para
pemuda Sriwijaya yang belajar keluar Negeri, terutama ke Benggala (
India). Selain menjadi pusat perdagangan Balaputradewa juga telah
membuat Sriwijaya menjadi pusat penyebaran agama Buddha di Asia
Tenggara.
Dibanding dengan kerajaan besar lainnya Kerajaan Sriwijaya
memiliki kekhasan tersendiri. Hal ini bisa terlihat dari sejumlah
prasasti peninggalan yang menunjukan sejumlah birokrasi yang berisi
aturan untuk menjamin kekuatan dan ketenangan dalam negeri.
Sosial dan Budaya
Sriwijaya
merupakan kerajaan Budha terbesar. Hal itu membuat It-tsing, seorang
pendeta dari Cina pernah menetap selama 6 tahun di Sriwijaya untuk
memperdalam agama Buddha. Salah satu karya yang dihasilkannya, yaitu Ta
Tiang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuan yang selesai ditulis pada tahun 692 M.
Selain
itu Peninggalan Kerajaan Sriwijaya banyak ditemukan di daerah
Palembang, Jambi, Riau, Malaysia, dan Thailand. Hal ini disebabkan
karena Sriwijaya merupakan Kerajaan Maritim yang selalu berpindah-pindah
dari satu tempat ke tempat yang lain dalam kurun waktu yang lama.
Prasasti
dan situs yang ditemukan disekitar Palembang, yaitu Prasasti Boom Baru
(abad ke7 M), Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti Talangtuo (684
M), Prasasti Telaga Batu ( abad ke-7 M), Situs Candi Angsoka, Situs
Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa. Sedangkan peninggalan sejarah
Kerajaan Sriwijaya lainnya ditemukan di Jambi, Sumatera Selatan dan
Bengkulu, yaitu Candi Kotamahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi
Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar batu, Candi Astono
dan Kolam Telagorajo, Situs Muarojambi. Selain itu Peninggalan Sejarah
Kerajaan Sriwijaya di Lampung terdapat Prasasti Palas Pasemah dan
Prasasti Bungkuk (Jabung). di Riau, Candi Muara Takus yang berbentuk
stupa Budha.
Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya
Pada abad ke-11
Raja Rajendra Cholamandala dari India Selatan melakukan dua kali
penyerangan ke Kerajaan Sriwijaya. Hal tersebut disebabkan adanya
persaingan di bidang pelayaran dan perdagangan. pada penyerangan yang
kedua, Kerajaan Chola berhasil menawan Raja Sri Sanggrama
Wijayatunggawarman serta berhasil merebut kota dan bandar-bandar penting
Kerajaan Sriwijaya.
Sekalipun Kerajaan ini masih berdiri, namun
kemashurannya sudah pudar. Bersamaan dengan hal itu Pada abad ke-13 M,
Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran yang luar biasa. Kerajaan besar
di sebelah utara, seperti Siam melakukan perluasan wilayah kekuasaannya
ke wilayah selatan. Kerajaan Siam ( Kerajaan Kediri ) berhasil
menguasai daerah Semanjung Malaka, termasuk Tanah Genting Kra. Akibat
dari perluasan Kerajaan Siam tersebut, kegiatan pelayaran perdagangan
Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang. Sriwijaya menjadi kerajaan kecil
dan lemah yang wilayahnya terbatas di daerah Palembang, pada abad ke-13
Kerajaan Sriwijaya dihancurkan oleh Kerajaan Majapahit. Kerajaan
Sriwijaya benar-benar tenggelam, hilang dan lenyap tanpa jejaknya.
Kira-kira pada 1377 habislah sejarah dari Kerajaan Sriwijaya yang semula
pernah berjaya.
DAFTAR PUSTAKA
Yulianti,2007,1700 Bank Soal Sejarah Indonesia dan Dunia,Bandung:Yrama Widya
Joened poesponegoro,marwati,1993,Sejarah Indonesia 2,Jakarta:Balai Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Selatan
http://budpar.go.id/imgdata/article465
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Seriwijaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ahmad.dayguns@gmail.com